3 Negara Yang Kapalnya Diizinkan Melewati Selat Hormuz dan 3 Negara Yang Masih Bernegosiasi

DEMOCRAZY.ID – Selat Hormuz dikenal sebagai jalur laut strategis yang menjadi pintu gerbang utama bagi perdagangan energi dunia.

Seperlima pengiriman minyak dunia melewati selat tersebut.

Sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, lalu lintas di selat ini menjadi terbatas.

Mengutip Al Jazeera, pada 2 Maret, penasihat senior panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ebrahim Jabari, mengumumkan bahwa Selat Hormuz ditutup.

Ia juga mengatakan bahwa jika ada kapal yang mencoba menyeberanginya, IRGC dan angkatan laut akan membakar kapal-kapal tersebut.

Langkah tersebut membuat harga minyak melonjak ke atas 100 dolar AS per barel dari harga sebelum perang yang sekitar 65 dolar AS.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada jaringan televisi AS CBS News pada Minggu (15/3/2026) bahwa Teheran telah didekati oleh sejumlah negara yang mencari jalur aman bagi kapal mereka,.

“Dan ini terserah militer kami untuk memutuskan,” ujarnya,

Ia menambahkan bahwa sekelompok kapal dari berbagai negara telah diizinkan untuk lewat, tanpa memberikan detail.

Berikut negara mana saja yang kapalnya diizinkan melewati selat tersebut dan negara mana yang dilaporkan sedang bernegosiasi untuk jalur aman.

– Pakistan

Sebuah kapal tanker Aframax berbendera Pakistan bernama Karachi berlayar keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz pada Minggu (15/3/2026), menurut laporan Bloomberg News.

Menurut Marine Traffic, Aframax Karachi, yang membawa minyak mentah Das milik Abu Dhabi, menjadi kargo non-Iran pertama yang melintasi titik rawan tersebut sambil menyiarkan sinyal AIS-nya.

Hal itu menunjukkan bahwa pengiriman tertentu mungkin menerima jalur aman yang telah dinegosiasikan.

– India

Pada Sabtu (15/3/2026), Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, mengatakan Teheran telah mengizinkan beberapa kapal India melewati Selat Hormuz.

Fathali tidak mengonfirmasi jumlah kapal tersebut.

Namun, pada hari yang sama, New Delhi mengatakan dua kapal tanker berbendera India yang membawa gas minyak cair menuju pelabuhan di India barat telah melewati selat tersebut.

“Mereka telah melewati Selat Hormuz dengan selamat pagi ini dan sedang dalam perjalanan menuju India,” kata Rajesh Kumar Sinha, sekretaris khusus Kementerian Pelabuhan, Perkapalan, dan Perairan, dalam konferensi pers di New Delhi.

– Turki

Sebuah kapal milik Turki yang telah menunggu di dekat Iran diizinkan melewati selat tersebut setelah pihak berwenang menerima izin dari Teheran, kata Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki Abdulkadir Uraloglu dalam komentarnya kepada media Turki pada Jumat.

“Ada 15 kapal [milik Turki] di sana. Kami memperoleh izin dari pihak berwenang Iran untuk salah satu kapal yang telah menggunakan pelabuhan Iran, dan kapal itu berhasil melewatinya,” kata Uraloglu.

– China

China sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengizinkan kapal pengangkut minyak mentah dan gas alam cair Qatar melewati Selat Hormuz dengan aman, menurut laporan kantor berita Reuters pada 5 Maret, yang mengutip tiga sumber diplomatik anonim.

China, yang memiliki hubungan baik dengan Iran dan sangat bergantung pada pasokan minyak bumi dari Timur Tengah, tidak senang dengan keputusan Iran untuk melumpuhkan pengiriman melalui selat tersebut.

Menurut sumber-sumber itu, China juga mendesak Teheran agar mengizinkan kapal-kapalnya melewati selat tersebut dengan aman.

China menerima 45 persen minyaknya melalui Selat Hormuz.

– Prancis dan Italia

Kedua negara Eropa tersebut dilaporkan telah meminta pembicaraan dengan Iran untuk mengizinkan kapal-kapal mereka melewati selat tersebut, menurut laporan Financial Times, yang mengutip pejabat anonim.

Koalisi Angkatan Laut Donald Trump

Presiden AS Donald Trump menyerukan pembentukan koalisi angkatan laut untuk bergabung dengan Angkatan Laut AS dalam mengerahkan kapal perang guna mengamankan selat tersebut.

“Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke wilayah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman bagi negara yang telah sepenuhnya kehilangan kekuasaannya,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social pada Minggu (15/3/2026).

Namun, negara-negara yang disebut Trump belum memberikan janji untuk bergabung dalam operasi tersebut.

Pada Senin, Jerman dan Yunani menolak keterlibatan militer.

Seorang juru bicara pemerintah Jerman mengatakan, “Selama perang ini berlanjut, tidak akan ada partisipasi, bahkan dalam upaya apa pun untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dengan cara militer.”

Yunani juga tidak akan terlibat dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz, kata juru bicara pemerintah Pavlos Marinakis.

Meskipun mendapat tekanan dari pemerintahan Trump untuk memberikan dukungan kepada AS dalam perang melawan Iran, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan kepada media pada Senin, “Kami tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas.”

Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengatakan pada Senin bahwa diplomasi harus diutamakan dan negaranya tidak terlibat dalam misi angkatan laut apa pun yang dapat diperluas ke wilayah tersebut, mengutip The Guardian.

Ia meragukan perluasan cakupan misi Uni Eropa yang ada di Laut Merah ke Selat Hormuz karena misi tersebut merupakan misi anti-pembajakan dan pertahanan.

Rodger Shanahan, seorang analis keamanan Timur Tengah, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tidak mungkin sekutu AS akan terlibat dalam pengamanan Selat Hormuz seperti yang disarankan oleh pemerintahan Trump.

Shanahan mengatakan, karena sebagian besar sekutu AS menentang perang ini sejak awal, hal itu membuat mereka “relatif kurang cenderung untuk memberikan dukungan”.

“Selain itu, ada masalah praktis. Jika Anda menginginkan dukungan angkatan laut untuk semacam operasi perlindungan koalisi, dibutuhkan waktu lama untuk mengirim kapal ke daerah itu. Anda tidak dapat melakukan hal semacam ini secara mendadak.”

Mengenal Selat Hormuz dan Negara yang Paling Berdampak akibat Penutupannya

Mengutip The Guardian, Selat Hormuz adalah satu-satunya jalur maritim keluar dari Teluk, serta menjadi rute bagi sekitar seperempat perdagangan gas alam cair dan pengiriman barang melalui laut di dunia.

Pelayaran di sana terbatas pada jalur selebar dua mil, satu untuk lalu lintas keluar dan satu untuk lalu lintas masuk, yang dipisahkan oleh meridian selebar dua mil.

Pada bagian tersempitnya, selat ini hanya selebar 21 mil laut (24 mil), dibatasi di satu sisi oleh pantai Iran dan di sisi lain oleh Semenanjung Musandam di Oman.

Sebagai jalur perdagangan global di wilayah yang kompleks secara politik, selat ini secara historis telah menjadi target untuk dijadikan alat tawar-menawar, termasuk selama “perang tanker” dalam konflik Iran-Irak pada 1980-an.

Mengutip CNBC, sekitar 13 juta barel per hari melewati selat tersebut pada 2025, mewakili sekitar 31 persen dari seluruh aliran minyak mentah melalui laut, menurut perusahaan konsultan energi Kpler.

Menurut Kpler, sekitar 20 persen ekspor gas alam cair global yang berasal dari Teluk Persia juga berisiko, terutama yang berasal dari Qatar dan dikirim melalui Selat Hormuz.

Qatar, salah satu penyedia LNG terbesar di dunia, menghentikan produksi pada Senin setelah drone Iran menyerang fasilitasnya di Kota Industri Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed.

“Di Asia, Thailand, India, Korea, dan Filipina adalah negara yang paling rentan terhadap kenaikan harga minyak karena ketergantungan impor mereka yang tinggi, sementara Malaysia akan menjadi penerima manfaat relatif karena merupakan pengekspor energi,” tulis Nomura, perusahaan sekuritas terbesar di Jepang, dalam sebuah catatan pada Senin (2/3/2026).

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya