DEMOCRAZY.ID – Kematian husnul khatimah menjadi dambaan tiap muslim. Akhir kehidupan yang baik menjadi awal dari pintu rahmat Allah selanjutnya di alam akhirat, sebabaimana firman-Nya dalam surah al-Fajr ayat 27–30.
“Wahai jiwa yang tenang!Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam (golongan) hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajar: 27-30).
Siapapun ingin menjadi hamba yang dipanggil sebagai Nafsul muthmainnah, jiwa yang tenang, dengan panggilan penuh kasih sayang. Yakni, golongan yang akan masuk ke dalam surga Allah SWT.
Merujuk Buku Tanda-Tanda Husnul Khatimah dan Su’ul Khatimah karya Dar Al-Qasim, tanda-tanda husnul khatimah dalam Islam dapat dipahami melalui tiga kategori besar yang menggambarkan kondisi jiwa, keadaan fisik saat wafat, serta sebab-sebab syahid.
Berikut ini adalah tanda-tanda khusnul khatimah berdasar dalil dan penjelasan ulama. Mari simak ulasannya.
Buku Tanda-Tanda Husnul Khatimah dan Su’ul Khatimah karya Dar Al-Qasim dan Kematian Husnul Khatimah karya Dr. Abu Hafizhah Irfan membeberkan tanda-tanda husnul khatimah berdasar dalil hadis, serta penjelasan ulama.
Dari rangkuman kedua sumber utama tersebut, terdapat 20 tanda utama husnul khatimah, yang saling menguatkan:
Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang akhir ucapannya لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud)
Mengutip Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, Ibn Rajab al-Ḥanbali dalam syarah hadits “innamal a‘mālu bil khawātim” (Sesungguhnya amal itu bergantung pada penutupnya), Ibn Rajab menerangkan bahwa seseorang akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaan hidupnya; siapa yang membiasakan diri dengan tauhid, dzikir, ketaatan, dan ikhlas, maka Allah akan memuliakannya dengan menjadikan penutup hidupnya sesuai keadaan itu.
Jika lidah terbiasa dengan dzikir dan tauhid, maka akan mudah mengucap syahadat saat sakaratul maut. Bahwa kalimat tauhid ini adalah tanda terbesar husnul khatimah, karena ia penutup iman.
Hadits Buraidah: “Seorang mukmin meninggal dengan kening berkeringat.” (HR. Tirmidzi)
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menjelaskan, keringat adalah tanda sakaratul maut yang lembut dan ruh yang bersih. Keringat adalah tanda ampunan dan rahmat.
Keringat merupakan tanda “kematian lembut” karena Allah meringankan sakaratul maut seorang mukmin.
Nabi SAW bersabda: “Seorang muslim yang meninggal pada hari atau malam Jumat akan dijaga dari fitnah kubur.” (HR. Tirmidzi)
Dalam Zād al-Ma‘ād fī Hady Khayr al-‘Ibād, Ibnul Qayyim menjelaskan Jumat adalah “sayyidul ayyām”, hari mustajab doa dan penuh rahmat.
Jumat juga perlindungan dari azab kubur karena ada karunia khusus.
Dalil: QS Ali Imran 169–171, ayat yang membicarakan kemuliaan para syuhada.
Keutamaan syahid adalah diampuni saat darah pertama tertumpah, diperlihatkan tempatnya di surga, diselamatkan dari azab kubur, aman dari ketakutan kiamat, mendapat bidadari, dan memberi syafaat 70 keluarga.
Menurut ulama, Syahid adalah puncak amal, memadukan iman, keberanian, dan keikhlasan.
Sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa orang yang mati dalam jihad, safar dakwah, tugas ketaatan, tetap bernilai syahid.
Hal menegaskan bahwa syahid tidak hanya terbatas pada “terbunuh”, tetapi pada “keberadaan dalam amal ketaatan besar”.
Nabi SAW bersabda: “Tha‘un adalah syahid bagi setiap muslim.” (HR. Muslim)
Ulama sepakat tha‘un adalah penyakit yang menyebar cepat, menyakitkan, dan menimbulkan kesabaran—sehingga setara syahid dan husnul khatimah.
Hadits Jabir bin ‘Atik: orang tenggelam adalah syahid.
Tenggelam biasanya disertai rasa takut dan kesakitan. Kesabaran dalam kondisi ini menjadi sebab syahid dan kematian yang baik.
Termasuk syahid adalah meninggal karena penyakit berat, sakit perut atau organ dalam. Dan ini menjadi kematian husnul khatimah.
Menurut ulama, sakit perut (الْمَبْطُون) mencakup diare parah, infeksi organ dalam, hingga gangguan usus berat merupakan ujian bagi muslim sehingga mengantarnya menuju husnul khatimah.
Seorang muslim yang meninggal karena terbakar juga sebagai syahid dan menjadi alasannya husnul khatimah.
Sakitnya api sangat berat, dan sabar dalam musibah semacam ini termasuk derajat tinggi.
Sebagaimana hadits Jabir bin ‘Atik. Dalam kajian empiris, seorang muslim yang meninggal karena gempa bumi, bangunan roboh, kecelakaan besar adalah syahid yang menjadi jalan husnul khatimah.
Nabi SAW menyebut wanita yang meninggal karena melahirkan sebagai syahid. Melahirkan adalah perjuangan jiwa dan darah; pengorbanan ini diangkat oleh Allah sebagai syahidah dan husnul khatimah.
Anak yang lahir akan menarik ibunya menuju surga. Ibu yang meninggal saat nifas juga dikategorikan husnul khatimah.
Termasuk syahid adalah orang yang meninggal karena penyakit pernapasan (TBC). TBC adalah penyakit berat yang menyebabkan sesak dan penderitaan panjang, kesabaran tinggi dan oleh karenanya menjadi jalan husnul khatimah apabila bersabar.
“Barangsiapa terbunuh dalam membela hartanya, ia syahid.” (HR. Ahmad). Kematian syahid seperti ini juga merupakan tanda husnul khatimah.
Bahwa orang yang terbunuh saat membela keluarganya menunjukkan keberanian, amanah, dan tanggung jawab, yang dihitung sebagai jihad di jalan Allah. Mati dalam membela keluarga termasuk syahid dan husnul khatimah.
Membela agama bukan hanya perang fisik, tetapi juga menjaga aqidah, syariat, dan kehormatan Islam. Termasuk juga seseorang yang meninggal dalam aktivitas dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, atau menentang kebatilan.
Maksud membela jiwa adalah mempertahankan diri dari penyerangan, pembunuhan, perampokan, atau kezaliman yang mengancam nyawa.
Imam Nawawi menjelaskan dalam Syarh Muslim bahwa orang yang melawan penyerang, walaupun tanpa niat membunuh, tetapi untuk menyelamatkan diri, lalu meninggal, maka ia dihitung syahid dan husnul khatimah.
Nabi SAW bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah gunakan ia dalam amal shalih sebelum ia meninggal.” (HR. Tirmidzi)
Seseorang sering diwafatkan dalam amal yang paling ia cintai. Puasa, shalat malam, sedekah, tilawah, semua bisa menjadi penutup yang baik.
Nabi SAW bersabda: pahala terus mengalir, rezeki mengalir, aman dari fitnah kubur. (HR. Muslim)
Berdasar hadits Bukhari–Muslim: “Pujian kalian adalah persaksian Allah di bumi.”
Umar bin Khattab RA menjelaskan, bila empat orang memuji seorang mayit, ia masuk surga. Ulama lainnya, seperti Dar al-Qasim menjelaskan bahwa dua saksi pun cukup.
Merujuk Al-Jawāb al-Kāfī, Madarij as-Sālikīn, dan Zād al-Ma‘ād Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa Allah biasanya menutup kehidupan seorang hamba sesuai dengan kebiasaan amalnya sepanjang hidup.
Bila seseorang hidupnya mencintai tauhid, menjaga shalat, berpuasa, jujur, berzikir, maka ia besar kemungkinan ditutup dengan amal tersebut, karena Allah memuliakan orang yang memuliakan-Nya.
Sebaliknya, orang yang hidup dalam kelalaian, kemaksiatan, syahwat, maksiat yang terus diulang, dikhawatirkan Allah mencabut nyawanya dalam keadaan tersebut, sebagaimana kisah orang yang meninggal dalam kondisi membiasakan maksiat.
Ibnul Qayyim menyebut fenomena ini sebagai “su’ul khatimah karena kebiasaan buruk”, bukan karena keburukan tunggal sesaat.
Merujuk sumber dan penjelasna ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa busnul Khatimah diberikan kepada:
1. Mereka yang menghidupkan tauhid dan memurnikan hati.
2. Mereka yang istiqamah dalam amal shalih, sekalipun kecil.
3. Mereka yang menjaga diri dari dosa besar dan syahwat.
4. Mereka yang bersabar & ridha kepada takdir.
5. Mereka yang berjuang membela agama, harta, jiwa, atau keluarga.
6. Mereka yang menjaga hubungan hati dengan Allah saat sakaratul maut.
7. Mereka yang terbiasa berdzikir.
8. Mereka yang taubatnya terjaga.
9. Mereka yang hidup dengan Al-Qur’an.
10. Mereka yang menjaga shalat dan amal sunnah.
11. Mereka yang menjauhi kezaliman dan menjaga hak sesama.
12. Mereka yang hidup dalam kebaikan, sehingga Allah menutup hidupnya dengan kebaikan.
Sumber: Liputan6