DEMOCRAZY.ID – Virus Corona pernah mengintai penduduk dunia. Hampir semua negara membatasi aktivitas warganya, termasuk Indonesia.
Kini, muncul virus lainnya yaitu Nipah yang dibawa oleh kelelawar buah dan bisa menular ke hewan lain seperti babi, kuda, kucing, domba, kambing, dan anjing.
Namun, Nipah bukan penyakit baru. Virus ini pertama kali terdeteksi pada 1998 di suatu peternakan babi di Malaysia.
Sayangnya, belum ada pengobatan spesifik dan vaksin untuk virus Nipah. Hal itu menyebabkan tingkat kematian 40-75 persen.
Akan tetapi, Nipah bukan satu-satunya virus paling mematikan di dunia.
Berdasarkan World Health Organization (WHO), virus Marburg pertama kali terdeteksi pada tahun 1967 setelah dua wabah simultan di Frankfurt, Jerman dan di Belgrade, Serbia.
Virus Marburg kala itu menyerang pekerja laboratorium yang tertular monyet dari Uganda. Selanjutnya, virus ini dilaporkan muncul di Angola, Kongo, Ghana, Guinea, Kenya, Afrika Selatan, Tanzania, dan Uganda.
Penyakit ini punya angka kematian hingga 88 persen, tetapi jauh lebih rendah dengan perawatan dini dan maksimal.
Gejala virus Marburg sama dengan Ebola, yakni demam tinggi dan pendarahan di seluruh tubuh yang menyebabkan syok, kegagalan organ, dan kematian.
Wabah penyakit Ebola yang besar disebabkan oleh tiga virus, yakni virus Ebola, virus Sudan, dan virus Bundibugyo.
Kasus virus Ebola pertama kali terjadi pada tahun 1976 di Sudan dan Kongo. Tingkat kematiannya bervariasi mulai dari 25 persen sampai 90 persen.
Sejauh ini baru ada vaksin untuk pengobatan virus Ebola, tetapi belum ditemukan vaksin untuk dua virus lainnya.
Namun, WHO menyebut perawatan intensif sejak dini dengan rehidrasi dan pengobatan gejala bisa meningkatkan angka harapan hidup.
Menurut WHO, rabies merupakan masalah kesehatan serius di lebih dari 150 negara, terutama di wilayah Asia dan Afrika.
Setiap tahunnya, tercatat ada puluhan ribu orang yang meninggal akibat rabies dengan 40 persen di antaranya anak-anak di bawah 15 tahun.
Adapun 99 persen kasus rabies pada manusia diakibatkan gigitan dan cakaran anjing. Namun, virus ini juga bisa ditularkan dari kucing, hewan ternak, dan satwa liar lainnya.
Selain dari gigitan dan cakaran, manusia bisa tertular virus rabies jika bersentuhan dengan selaput lendir seperti mata, mulut, atau luka terbuka.
Begitu gejalanya muncul, rabies hampir 100 persen berakibat fatal alias membuat penderitanya meninggal dunia.
Untungnya, sudah ada vaksin rabies untuk manusia yang bisa mengurangi angka kematian.
Setelah digigit atau dicakar anjing, harus segera pencucian luka secara menyeluruh, pemberian vaksin rabies manusia, dan jika diperlukan, immunoglobulin rabies (RIG).
Selain itu, bisa juga memberikan vaksin rabies ke hewan-hewan pembawa virus seperti anjing agar menghentikan sumber penularannya.
Selain rabies, HIV juga menjadi masalah kesehatan serius bagi hampir seluruh negara di dunia. WHO mencatat ada 40,8 juta jiwa yang hidup dengan HIV hingga akhir tahun 2024.
Sebanyak 65 persen di antaranya berada di Afrika. Sementara, virus ini telah merenggut 44,1 juta nyawa.
Sejak HIV pertama kali teridentifikasi pada 1980-an, belum ditemukan obat untuk penyakit yang menyerang kekebalan tubuh ini.
Meski demikian, penularan virus HIV bisa dicegah dengan cara-cara berikut ini:
WHO menyebut cacar sebagai salah satu penyakit paling mematikan dalam sejarah manusia karena menyebabkan jutaan kematian, sebelum akhirnya diberantas.
Penyakit ini diperkirakan sudah ada setidaknya selama 3000 tahun. Adapun vaksinya sudah ditemukan oleh Edward Jenner pada tahun 1796.
Pada 1967, WHO meluncurkan program memberantas cacar dengan imunisasi. Kasus cacar alami terakhir tercatat di Somalia pada 1977.
Pada tahun 1980, WHO menyatakan cacar sudah diberantas.
Hantavirus menular lewat kotoran tikus yang terinfeksi kuman dan tidak menyebar antarmanusia.
Melansir CDC (Centers for Disease Control and Prevention), Hantavirus menyebabkan sindrom paru atau HPS yang bisa berakibat fatal.
Sebanyak 38 persen orang yang mengalami gejala pernapasan dapat meninggal karena penyakit ini.
Selain HPS, Hantavirus juga menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal atau HFRS.
Penderita HFRS perlu menghilangkan racun dari darah dan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh saat ginjal tidak berfungsi dengan baik.
Sayangnya, tidak ada juga pengobatan khusus untuk virus ini. Penderita harus menerima perawatan suportif termasuk istirahat, hidrasi, dan pengobatan gejala.
Masih mengutip CDC, Flu Spanyol merupakan pandemi paling parah dalam sejarah modern. Penyebabnya adalah virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas.
Virus ini menyebar ke seluruh dunia selama tahun 1918-1919, dengan sekitar 500 juta orang atau sepertiga populasi dunia kala itu terinfeksi.
Sebanyak 50 juta jiwa di seluruh dunia diperkirakan meninggal. Angka kematian tertinggi terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun, orang berusia 20-40 tahun, dan mereka yang berumur 65 tahun ke atas.
Demam berdarah disebabkan oleh virus Dengue (DENV) yang ditularkan ke manusia lewat gigitan nyamuk yang terinfeksi.
Sebagian besar penderita demam berdarah akan sembuh dalam satu sampai dua minggu. Namun, pasien dengan tingkat keparahan yang tinggi wajib dirawat di rumah sakit.
Dalam kasus yang parah, demam berdarah bisa mengakibatkan kematian.
Berdasarkan WHO, Rotavirus merupakan penyebab diare parah pada bayi dan anak kecil di seluruh dunia.
Virus ini menyebabkan sekitar 527.000 kematian pada 2024, terutama di negara berkembang. Untungnya, sudah ada vaksin untuk mencegah Rotavirus.
SARS atau sindrom pernapasan akut berat pertama kali terdeteksi pada November 2002 di China dan kemudian menyebar ke 28 negara lain.
Menurut WHO, patogen penyebab penyakit ini adalah virus Corona. Dengan demikian, SARS-CoV merupakan virus pernapasan yang menyebar lewat udara.
Sebagian besar yang tertular virus ini adalah orang dewasa yang sebelumnya sehat berusia 25-70 tahun. Angka kematian SARS yang terkonfirmasi saat ini adalah sekitar 9,6 persen.
Sumber: Inilah