HUKUM POLITIK

Politisi PDIP Menyerukan Pemakzulan Terhadap Jokowi dan Dituntut Ke Pengadilan

DEMOCRAZY.ID
Januari 11, 2024
0 Komentar
Beranda
HUKUM
POLITIK
Politisi PDIP Menyerukan Pemakzulan Terhadap Jokowi dan Dituntut Ke Pengadilan

Politisi PDIP Menyerukan Pemakzulan Terhadap Jokowi dan Dituntut Ke Pengadilan


DEMOCRAZY.ID - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemungkinan akan dimakzulkan dan dituntut oleh pengadilan karena melakukan kecurangan pada Pemilu 2024, di mana mantan Wali Kota Solo itu mendukung pasangan calon Prabowo-Gibran.


“Atas kecurangan maka KPU dibekukan, proses pemilu berhenti, Presiden tidak menjalankan UU pelaksanaan Pemilu maka dia dimakzulkan dan dituntut di pengadilan,” kata Politikus PDIP dekat almarhum Taufik Kiemas, Beathor Suryadi kepada wartawan, Rabu (10/1/2024).


Setelah Jokowi dimakzulkan, Beathor mengusulkan pembentukan pemerintahan transisi di bawah Ma’ruf Amin.


“Bentuk pemerintahan transisi oleh Wapres Ma’ruf Amin, lalu laksanakan pemilu yang jujur, Langsung dan rahasia,” jelas mantan tahanan politik era Soeharto ini.


Untuk memakzulkan Jokowi, kata Beathor perlu kekompakan di DPR dan gerakan rakyat.


“Cukup kuat, jika PDIP lakukan gerakan massa, punya Wapres Ma’ruf Amin, satu orang Menko Mahfud MD plus para menteri,” paparnya.


Kata Beathor, kejatuhan Jokowi dari kekuasaan justru menyelamatkan Indonesia dari pemerintahan yang anti-demokrasi. 


“Indonesia terselamat kan dari bangkitnya Rezim tirani anti-demokrasi,” jelasnya. 


Mahfud MD Sebut Pemakzulan Jokowi Sebelum Pemilu 2024 Mustahil, Kenapa?


Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD menyebut, usulan koalisi masyarakat sipil yang meminta pemakzulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelum Pemilu 2024 tak mungkin terjadi.


"Pemilu sudah kurang 30 hari. [Pendakwaan] di tingkat DPR aja tidak bakal selesai untuk mencari sepertiga [anggota] DPR yang memakzulkan, belum lagi sidangnya [di Mahkamah Konstitusi]," kata Mahfud usai hadir pada forum 'Tabrak Prof' di STK Ngagel, Surabaya, Rabu (10/1) malam.


Pasangan capres Ganjar Pranowo ini mengatakan, berdasarkan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, ada lima syarat untuk memakzulkan presiden.


"Satu, presiden terlibat korupsi; [dua] terlibat penyuapan; [tiga] melakukan penganiayaan berat, atau kejahatan berat misal membunuh atau apa; keempat melanggar ideologi negara; kelima melanggar kepantasan, melanggar etika," ucapnya.


Namun, menurut Mahfud, hal itu tak mudah untuk direalisasikan. Pasalnya, usulan ini harus terlebih dahulu masuk ke lembaga legislatif. Proses dan teknisnya juga sangat panjang.


"DPR yang menuduh itu, mendakwa, melakukan impeach. Impeach itu pendakwaan, harus dilakukan oleh minimal sepertiga anggota DPR, dari 575 anggota DPR," katanya.


"Dari sepertiga [anggota DPR] ini harus dua pertiga hadir dalam sidang. Dari duapertiga yang hadir harus duapertiga setuju untuk pemakzulan," tambah Mahfud.


Jika pemakzulan ini sudah disetujui oleh DPR, kata Mahfud, maka usulan itu akan dilanjutkan pada proses sidang di Mahkamah Konstitusi (MK).


"Kalau DPR setuju nanti dikirim ke MK. [MK akan memeriksa] apakah putusan DPR ini benar bahwa presiden sudah melanggar, nanti MK sidang lagi lama. Padahal ini yang menggugat-menggugat itu mintanya agar dimakzulkan sebelum pemilu," kata dia.


Diketahui, usulan pemakzulan Presiden Jokowi ini sebelumnya disampaikan oleh puluhan orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai koalisi masyarakat sipil. Mereka menemui Mahfud di kantor Kemenko Polhukam, Selasa (9/1) siang.


Total ada 22 orang yang hadir menemui Mahfud. Mereka di antaranya ialah Faizal Assegaf, Marwan Batubara, hingga Letjen Purn Suharto.


Mahfud pada kesempatan itu menerima sejumlah keluhan, khususnya soal dugaan kecurangan pada Pemilu dan Pilpres 2024, hingga usulan pemakzulan Presiden Jokowi sebelum pemilu.


Merespons usul itu, Mahfud menegaskan pihaknya tak mau ikut campur. Menurut dia, pemakzulan presiden merupakan kewenangan DPR.


Sumber: SumbawaNews

Penulis blog