EKBIS

Tukang Las Rel Kereta Cepat Dari China, KCIC: Harus Mereka, Pekerja Lokal Belum Bisa

DEMOCRAZY.ID
Maret 12, 2024
0 Komentar
Beranda
EKBIS
Tukang Las Rel Kereta Cepat Dari China, KCIC: Harus Mereka, Pekerja Lokal Belum Bisa

Tukang Las Rel Kereta Cepat Dari China, KCIC: Harus Mereka, Pekerja Lokal Belum Bisa

DEMOCRAZY.ID - Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Rahadian Ratry mengungkap alasan mendatangkan tukang las rel dari China untuk bekerja di proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. 


Dia menjelaskan, dalam proses pengerjaan rel kereta cepat, dibutuhkan teknologi yang saat ini belum bisa dilakukan oleh tenaga kerja lokal. 


Sebab, Proses pengelasannya menggunakan peralatan serta metode khusus yang harus dilakukan dengan pendampingan tenaga ahli. 


Hal ini berkaitan dengan jenis bahan yang akan disambungkan untuk menjadi rel Kereta Cepat Jakarta-Bandung. 


"Harus dilihat secara cermat pengerjaan pengelasan yang memang bisa dilakukan oleh tenaga kerja lokal dan mana kegiatan pengelasan yang membutuhkan skill karena menggunakan teknologi yang tidak manual," jelas Rahadian, Rabu (9/2/2022).


Pernyataan mengenai tukang las yang didatangkan dari China untuk mengerjakan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sebelumnya diungkapkan oleh Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Pungky Sumadi. 


Ia mengatakan, berdasarkan hasil diskusi antara pemerintah dengan KCIC, proses pengelasan harus menggunakan pekerja asing lantaran kualitas rel yang sangat tinggi. 


"Setelah kami diskusi dengan mereka, ternyata rel yang ada itu adalah rel yang kualitasnya sangat tinggi. 


Tingkat kepadatan maupun campuran besinya dan itu belum mampu diproduksi oleh Krakatau Steel misalnya," ucap Pungky. 


Rahadian menjelaskan, saat ini, dari total 15.487 tenaga kerja yang berada di proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung sebanyak 87,02 persennya merupakan tenaga kerja lokal. 


Secara rasio, jumlah tenaga kerja asing dibanding tenaga kerja lokal adalah 1:7.


"Artinya, dari total 8 pekerja, 7 di antaranya pekerja lokal, dan hanya 1 tenaga kerja asing," kata Rahadian.


Ia pun mengatakan, pekerja asing di proyek tersebut menempati posisi-posisi profesional yang ahli di bidang kereta cepat. 


Selain itu, tenaga asing juga melakukan transfer teknologi kepada tenaga kerja lokal. 


Proses transfer teknologi dilakukan dengan cara melibatkan tenaga kerja lokal pada proses pengerjaan hingga mengoperasikan peralatan, serta teknologi baru yang digunakan untuk membangun Kereta Cepat Jakarta-Bandung. 


"Pembangunan proyek Kereta Cepat yang memiliki nilai presisi tinggi membutuhkan ketelitian, kecermataan dan pengawasan komprehensif dari pihak ahli dalam hal ini China," jelas Rahadian. [Democrazy/dtk]

Penulis blog